Bahan Pengawet untuk Plitur Kayu Jati? BioCide Jawabannya

Wow, ternyata ada lho bahan pengawet untuk plitur kayu jati yang bisa dicampurkan saja! Apa bahan pengawet yang dimaksud? Dan, apakah bahan tersebut benar-benar efektif?

Kalau Durian sering disebut sebagai the king of fruit, barangkali kita bisa menyebut jati sebagai the king of wood di Jawa. Kayu jati memang merupakan kayu yang sangat populer di pulau ini. Sejak masa lalu orang Jawa memanfaatkan jati dalam pembuatan furniture, senjata, alat music tradisional, sampai rumah mereka.

Sukanya masyarakat pada jati bukan tanpa alasan. Tak hanya kuat dan tahan hama, jati juga merupakan kayu yang indah. Jati memiliki warna oranye lembut. Kadang warnanya juga tampak keemasan. Pola seratnya pun tak kalah menarik.

Pada pembuatan furniture, perabot, hingga bangunan, jati hampir selalu dicat dengan warna natural color transparent. Dengan demikian, keindahan alaminya terekspos tanpa penutupan dari warna solid opaque cat.

Nah, salah satu jenis cat yang bisa dipakai untuk finishing jati sendiri adalah plitur. Secara tradisional, plitur adalah bahan finishing dari resin shellac. Resin shellac sendiri merupakan getah yang dihasilkan oleh serangga yang menyerap nutrisi pada batang pohon di Asia Selatan.

Resin shellac telah digunakan sejak masa lalu. Salah satu hasil finishing yang terkenal dari shellac gum adalah French polish, di mana kayu difinish dengan tingkat glossy sangat tinggi. Namun saat ini penggunaan plitur shellac sudah mulai menurun. Sebab, banyak produk cat subtitusi yang lebih mudah digunakan, hasilnya lebih seragam, dan harganya pun bersaing.

bahan pengawet untuk plitur kayu jati

Produk cat seperti itu bisa Anda lihat pada Bio Varnish. Tak hanya menawarkan keindahan khas plitur, BioVarnish juga memiliki berbagai tampilan warna yang sangat menawan.

Perlunya Perlindungan pada Kayu Jati

Mengecat kayu jati sudah pasti akan membuat keindahannya semakin meningkat. Namun, untuk hasil finishing yang optimal, kita bukan hanya perlu memperindahnya saja. Kita juga harus memastikan kayu jati terlindung dari faktor perusak, terutama hama.

alterntif text

Loh, bukankah jati adalah kayu yang tahan hama? Beberapa dari Anda mungkin bertanya demikian. Dan memang, teakwood alias jati merupakan kayu yang resistensinya terhadap hama sangat baik. Namun demikian, kondisi di lapangan kadang berbeda.

Sebab, realitanya, banyak jati yang dijual di pasaran adalah jati muda. Jati-jati ini dipanen sebelum usianya tua. Jati muda secara umum memiliki ketahanan terhadap hama yang lebih rendah dibanding yang tua. Warnanya pun sebetulnya kurang pekat.

Maraknya penjualan kayu dalam usia muda disebabkan karena tingginya demand atau permintaan di pasaran. Memang, pada akhirnya akan lebih banyak orang mendapatkan kayu kesukaannya tersebut. Namun di sisi lain, terjadi penurunan kualitas besar-besaran. Oleh sebab itulah untuk menanggulanginya, kita perlu mengawetkan kayu jati tersebut.

Treatment untuk mempertahankan kayu dari serangan hama terangkum dalam metode-metode pengawetan. Biasanya, treatment ini dilakukan petani selaku produsen kayu ataupun pengelola kayu. Misalnya saja dengan meresapkan zat pengawet ke dalam kayu gergajian. Zat pengawet yang terdiri dari racun hama diresapkan ke dalam substrat kayu sehingga kayu tidak akan dimakan hama. Prinsip ini sesungguhnya sangat sederhana, namun begitu efektif.

Sayangnya, bagi banyak pelaku usaha, treatment ini agak sulit dilakukan. Para pengelola jati, baik itu di industri furniture sampai bangunan tidak memiliki tempat, tenaga, dan waktu untuk treatment yang efektif. Akibatnya, metode yang diterapkan seringkali hanya metode sederhana seperti penguasan zat antihama ke dalam furniture. Namun ini pun sudah lebih baik daripada tidak mentretment sama sekali.

Yang perlu diperhatikan adalah bahan pengawetnya. Bahan pengawet harus bisa melindungi dengan baik agar serangan hama bisa diantisipasi meski dengan metode yang sederhana.

Mencampurkan Bahan Pengawet untuk Plitur Kayu Jati: Memangnya Bisa?

Ada banyak metode pengawetan. Seperti dijelaskan di atas, ada cara-cara sederhana seperti penguasan. Tapi masih ada lagi lho treatment preservasi kayu yang jauh lebih simple. Caranya adalah dengan mencampurkan bahan pengawet ke dalam cat.

Metode ini dilakukan dengan prinsip bahwa lapisan cat bukan hanya lapisan untuk mempercantik kayu jati. Lapisan cat juga berfungsi untuk melindungi substrat kayu di dalamnya. Karena itu, lapisan cat pun harus tahan hama. Dan untuk melakukan ini, kita bisa menambahkan bahan pengawet ke dalam cat.

Jelas tidak semua bahan pengawet bisa digunakan untuk kebutuhan seperti ini. Kebanyakan bahan pengawet hanya bisa digunakan sebagai larutan perendam atau penguas cat saja. Namun untungnya, di pasaran kini telah tersedia BioCide Surface Film Preservative.

BioCide SFP sebagai Bahan Pengawet untuk Plitur Kayu Jati

BioCide Surface Film Preservative pada dasarnya adalah antijamur dengan bahan dasar Diuron dan Carbendazim Calcium bis (dodecylbenzenesulfonate). Berbeda dengan pengawet yang lain, Anda bisa mencampurkan produk ini ke bahan finishing cat plitur seperti BioVarnish.

Guna spesifik BioCide SFP adalah sebagai berikut:

1. Mencegah jamur dan lumut tumbuh di permukaan lapisan cat kayu jati
2. Memungkinkan Anda bisa tetap hemat karena tak perlu membeli cat antijamur yang hasilnya mahal

biocide sfp

Fungsi ini krusial dalam berbagai tahapan pengolahan kayu. Misalnya saat mebel Anda dikirim via kontainer. Tanpa lapisan finishing yang tahan hama, Anda bisa mengalami kerugian besar. Selain itu, lapisan cat yang tahan hama juga akan membuat kualitas furniture terjaga meski disimpan dalam gudang untuk waktu yang lama.

Cara Pakai

Metode pencampuran BioCide SFP ke dalam cat plitur kayu bisa dilakukan dengan sangat mudah. Anda tinggal mencampurkannya ke cat plitur water based seperti BioVarnish dengan konsentrasi 0,5 hingga 3%. Ingat, tidak semua cat bisa dicampuri dengan BioCide SFP. Hubungi CS kami untuk keterangan mana cat yang bisa diberi fungisida ini dan mana yang tidak.

Selain itu, jangan lupa untuk menggunakan alat-alat pelindung diri ya. Bagaimanapun juga, BioCide SFP mengandung racun antijamur yang mungkin bisa berdampak tak baik untuk Anda.

Ayo, Pesan BioCide SFP Sekarang Juga!

Yuk, segera pesan BioCide SFP sekarang juga. Anda bisa membeli di Bio Service Point di Yogya, Jepara, dan Cirebon. Atau, Anda juga bisa membeli secara daring lewat kontak hotline CS kami.

bahan pengawet untuk plitur kayu jati

Simpulan

Dari penjelasan di atas, ada beberapa hal yang bisa kita simpulkan, yakni:

  1. Jati memiliki banyak keunggulan yang membuatnya menjadi kayu favorit kebanyakan orang, terutama di pulau Jawa.
  2. Untuk finishing, jati kerap difinish dengan warna transparan natural. Plitur dan produk cat ala plitur seperti BioVarnish sering menjadi pilihan para pengrajin kayu.
  3. Finishing jati yang baik idealnya bukan hanya membuatnya indah, tapi juga bisa melindunginya. Apalagi untuk pengolahan jati muda.
  4. Agar hasil finishing lebih tahan hama, kita bisa menambahkan bahan pengawet.
  5. Tentu tak semua bahan pengawet bisa digunakan untuk kebutuhan ini, namun Anda selalu bisa mengandalkan BioCide SFP sebagai bahan pengawet untuk plitur kayu jati.

Semoga informasi ini bermanfaat!

alterntif text
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Beli sekarang juga!