Penelitian Ahli: Keefektifan Bahan Pengawet Kayu Anti Jamur BioCide Pada Papan Kelapa Sawit

Hasil pengawetan batang sawit dengan konsentrasi bahan pengawet kayu anti jamur BioCide 1%, 2,5%, dan 4% menunjukkan hasil yang efektif untuk mencegah jamur biru (blue stain).

Perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu sektor andalan di Indonesia yang tersebar di berbagai provinsi. Perkebunan sawit memiliki aspek positif dan negatif bagi perekonomian masyarakat di sekitarnya, pembangunan perkebunan kelapa sawit dapat meningkatkan perekonomian pedesaan. Di sisi lain, perkebunan sawit menyisakan berbagai aspek negatif terutama segi penanganan limbah yang dihasilkan dari sisa pengolahan di pabrik pengolahan CPO maupun di lahan pasca kegiatan penanaman kembali .

Kelapa sawit pada usia lebih kurang 25 tahun biasanya akan ditebang karena sudah tidak produktif lagi. Kegiatan replanting akan menyisakan limbah padat biomassa batang sawit di areal kebun sawit. Penanganan yang dilakukan selama ini terhadap pohon yang sudah ditebang belum maksimal, serta berpotensi menimbulkan masalah lain berkembangbiaknya kumbang dan jamur yang berpotensi mengganggu lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan potensi ketersediaan limbah kelapa sawit tersebut, maka salah satu arah kebijakan pelaksanaan pembangunan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau adalah upaya pemanfaatan limbah kayu batang sawit sebagai bahan baku industri perkayuan. Batang kelapa sawit memiliki karakteristik fisik dan mekanik yang rendah sampai sedang serta tingkat keawetannya juga rendah.

Hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan diketahui bahwa sifat fisik dan mekanik kayu kelapa sawit termasuk kelas kekuatan yang rendah sampai sedang. Sifat-sifat kayu kelapa sawit yang kurang menguntungkan tersebut dapat diantisipasi. Keawetan batang kelapa sawit dapat ditingkatkan dengan cara pengeringan atau dengan bantuan zat-zat kimia tertentu, seperti bahan pengawet obat anti jamur BioCide.

Jamur pewarna yang paling umum yang menyerang kayu sawit adalah jamur pewarna biru (blue stain) pada kayu, jamur pewarna biru terdiri dari sejumlah cendawan seperti Ceratocytis, Graphium, dan lainnya. Tiap jenis jamur pewarna biru mempunyai sifat yang berlainan, tetapi secara umum memerlukan syarat hidup yang sama terutama air, suhu, oksigen, makanan, dan pH tertentu.

Pertumbuhan jamur akan terhambat jika lingkungan terlalu asam atau terlalu basa, pH optimum untuk pertumbuhan jamur adalah berkisar antara 5 sampai 6,5. Untuk mencegah terjadinya pewarnaan akibat noda oksidasi dan noda kimiawi digunakan bahan antioksidan dan pereduksi.

Penjamuran kayu sawit perlu diantisipasi agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan alternatif berbagai kebutuhan subtitusi kayu komersial yang saat ini semakin langka dan mahal. Bahan anti jamur dan serangga pada batang sawit perlu banyak informasi dan pilihan yang sesuai sehingga diperoleh berbagai alternatif bahan pengawet yang sesuai untuk tujuan tertentu.

Terkait bahan pengawet anti jamur dan penggunaannya pada kayu kelapa sawit ini sudah diteliti oleh para peneliti muda dari Universitas Riau. Salah satunya ialah berjudul “Pengendalian Jamur Biru (Blue Stain) Batang Kelapa Sawit Limbah Replanting Menggunakan Bahan Pengawet BioCide”. Penelitian ini menguji efektifitas penggunaan bahan aktif BioCide untuk pengawetan batang sawit. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektifitas bahan pengawet kayu anti jamur BioCide untuk pengawetan batang sawit terhadap berbagai variasi komposisi campuran dan lama perendaman serta hubungannya karakteristik bahan terhadap kadar air dan kerapatan. Baca juga artikel terkait:Macam-macam Serangan Jamur Kayu Dan Cara MengatasinyadanObat Jamur Kayu BioCide Terpercaya DI Indonesia.

Beberapa Bahan dan Langkah Pengujian Yang Terukur

Pada penelitian yang dilakukan ahli tersebut, bahan dan peralatan yang dipakai untuk pengujian pengawetan yakni: Batang kelapa sawit berusia di atas 30 tahun; Bahan pengawet Biocide TCMBT/MBT (100/100EC) Bahan Biocide – TCMBT/MBT (100/100EC), berbahan aktif 2-(thiocyanomethylthio) benzothiazole dan methylene-bis- thiocyanate, produksi CV. Bioindustries Yogyakarta; peralatan untuk pengolahan bahan baku batang sawit; oven lab.; serta bak perendaman.

Batang kelapa sawit dipotong dan dibelah menjadi papan yang dibedakan antara bagian pangkal batang (P), tengah (T), dan ujungnya (U). Bagian penampang batang dibagi dua, bagian luar (L) dan bagian dalam (D). Setelah bahan seluruhnya selesai diolah menjadi papan, kemudian bahan kembali diolah menjadi benda uji berukuran lebar 5 cm, tebal 2,5 cm dan panjang 30 cm, selanjutnya masing-masing benda uji diberi tanda sesuai posisi masing-masing dan ditimbang beratnya (Wb). Selanjutnya benda uji dikeringkan dalam ruang terlindung selama 24 jam untuk menurunkan kadar lengas permukaan papan.

Setelah dikeringkan 24 jam, benda uji kembali ditimbang beratnya (Wb’). Selanjutnya disiapkan bak perendaman yang berisi air yang dicampur tiga variasi perbandingan jumlah zat pengawet terhadap air berdasarkan perbandingan volume, yakni 1%; 2,5%, dan 4%, masing-masing variasi enda uji terdiri dari tiga ulangan. Lama perendaman dilakukan selama 24 jam.

Setelah itu, benda uji direndam selama 24 jam dalam bak berisi bahan pengawet sesuai konsentrasi masing-masing, kemudian sisa air rendaman ditiriskan sampai permukaan papan kondisi jenuh kering muka lalu ditimbang beratnya.

Pengamatan perkembangan jamur pada permukaan papan sawit dilakukan selama 1 bulan dengan mencatat kehilangan berat sampel uji tiap hari untuk mengetahui kerapatan, kadar air, serta banyaknya pertumbuhan jamur pada permukaan papan sawit. Dan melihat bagaimana bahan pengawet kayu anti jamur Biocide bekerja. Baca juga:Cara Menghilangkan Jamur Pada Papan Kayu.

Hasil Yang Diperoleh Dengan Pengawetan Menggunakan Anti Jamur BioCide

Kadar air papan sawit hasil penelitian diperoleh mencapai rata-rata 523% pada bagian tengah dalam, 503% pada daerah pangkal dalam, seterusnya berkurang pada posisi lainnya 394%, 370, 355%, dan 342%. Banyaknya kandungan air yang ada dalam batang kelapa sawit akan mempersulit kemampuan penetrasi (masuk), absorbsi (penyerapan), serta retensi zat pengawet yang mempengaruhi derajat pengawetan papan sawit. Selain itu, banyaknya kandungan air dalam batang sawit akan memperberat masuknya bahan pengawet.

Hasil pengujian kerapatan batang sawit terhadap berbagai posisi diperoleh rata-rata sebesar 0,24 gram/cm3 sampai 0,4 gram/cm3. Berdasarkan Peraturan Konstruksi Kayu N.1-5, maka dapat dinyatakan bahwa kerapatan benda uji papan sawit termasuk kategori kayu kelas kuat IV sampai V. Dengan demikian, secara konstruksi jenis batang sawit tak dapat dijadikan bahan konstruksi yang mendukung beban berat, hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan yang bersifat nonstruktural.

Kerapatan batang sawit yang diawetkan Biocide secara umum diperoleh bahwa pada bagian pangkal-dalam dan pangkal-luar lebih rendah dibandingkan bagian penampang lainnya, hal tersebut disebabkan oleh perbedaan penyusutan dimensi spesimen selama proses pengeringannya sampai pada kondisi kadar air kering udara atau kadar lengas sekitar 15%. Besarnya penyusutan yang terjadi pada spesimen bagian ujung dan tengah batang menyebabkan perbandingan antara berat terhadap volume penampang bertambah besar.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengaruh penyusutan kayu tersebut menghasilkan permukaan spesimen yang tidak rata atau berkerut dan bergelombang. Penyusutan (secara volumetrik) yang paling besar terjadi pada posisi ujung bagian dalam diikuti bagia tengah-dalam. Posisi bagian batang sawit yang mempunyai nilai penyusutan terendah terdapat pada bagian Pangkal-Luar, Tengah-Luar. Pangkal-Dalam, dan Ujung-Luar.

Dengan Pengawetan BioCide Laju Pengeriangan Cepat

Laju pengeringan papan sawit yang diawetkan bahan pengawet kayu anti jamur Biocide sangat baik. Sebelum dilakukan pengawetan, kayu dikeringkan secara alami di ruangan terlindung selama 24 Jam untuk memberikan kesempatan permukaan papan sawit untuk kering permukaan sehingga cairan pengawet Biocide mudah meresak ke dalam substrat sawit.

Dari hasil penimbangan spesimen diperoleh bahwa selisih berat setelah dikeringkan secara alami diperoleh pengurangan berat spesimen sebesar 1,5 % sampai 4,3 %. Pengurangan berat relatif banyak di bagian terutama bagian pangkal-dalam dan bagian tengah luar. Dengan demikian hal tersebut dapat diperkirakan banyaknya zat pengawet yang akan diserap oleh papan sawit.

Setelah diawetkan, benda uji papan sawit mengalami laju penurunan kadar air relatif cepat dan berangsur-angsur menurun sampai mencapai kadar air kering udara. Rata-rata pengeringan papan sawit ketebalan 25 mm memerlukan lama pengeringan untuk mencapai kadar air kering udara selama 18 Hari.

Penelitian Menunjukkan Pengawetan Dengan BioCide Sangat Memuaskan

Efektifitas pengawetan batang sawit menggunakan bahan Biocide ternyata memberikan hasil yang memusakan yang mana dengan konsentrasi Biocide yang divariasikan pada kisaran 1 %, 2,5 %, dan 4 % terhadap volume air, memperlihatkan tidak ditemui adanya pertumbuhan jamur di permukaan bahan baku di semua kayu yang diuji. Terbukti bahan pengawet kayu anti jamur Biocide sangat bagus untuk pengawetan kayu dan mencegah jamur blue stain.

Gambar kiri kayu kelapa sawit yang diawetkan dan kanan tidak diawetkan.

Perbandingan papan sawit yang diawetkan dengan Biocide dapat diperoleh hasil yang tidak terjadi penjamuran untuk semua variasi kayu uji. Adapun sebagai perbandingan kondisi papan sawit yang tidak diawetkan permukaan papan mengalami penjamuran berwarna biru kehijau-hijauan serta bercak putih menyebar.

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa bahan pengawet Biocide sangat sesuai dan layak direkomendasikan untuk dimanfaatkan sebagai bahan pengawet batang sawit. Begitu pula kayu yang kurang awet lainnya, seperti sengon, pinus, akasia dan kayu untuk kebutuhan produksi furniture lainnya.

Artikel "Antijamur Kayu BioCide"

About Us

Antijamur.net merupakan akan obat anti jamur ramah lingkungan untuk merawat kayu baik kayu basah maupun kering atau sudah menjadi perabot. Produk Antijamur.net sangat efektif untuk merawat perabot/bangunan.

©2015 - 2019 AntiJamur.net - All Right Reserved.