Jamur perusak rotan dan bambu umumnya termasuk kelompok jamur pewarna/blue stain, kapang/mold dan jamur pelapuk.

Pertumbuhan jamur tersebut dapat terjadi pada kadar air 23- 150%, dan tumbuh baik pada kadar 35-120% dan suhu 22-30⁰C. Pertumbuhan jamur tersebut terhambat pada kadar air kurang dari 20% dan suhu lebih dari 40⁰C. Serangan jamur tersebut terjadi segera setelah rotan atau bambu ditebang, baik di tempat pemungutan, pengumpulan, pengangkutan dan pengeringan atau penjemuran, dan biasanya dimulai pada bagian bontos atau permukaan yang kulitnya terkelupas. Noda pewarnaan blue stain yang tampak abu-abu muda sampai biru kehitaman atau sering juga berwarna cokelat gelap.

Jamur Perusak Rotan

Rotan yang terserang jamur pewarna nampak kotor tetapi kekuatannya tidak menurun sehingga masih dapat digunakan untuk perabot yang pada proses fi nishing/akhir dipakai warna gelap, dan apabila serangannya ringan dapat dikurangi dengan diserut lagi atau diputihkan dengan bahan kimia. Rotan segar yang dikuliti lebih rentan terhadap jamur dibandingkan dengan rotan yang tidak dikuliti bila dikeringkan ditempat terbuka dan kena hujan dan embun.

Uji kerentanan tiga jenis rotan (manau, semambu dan irit) menunjukkan bahwa 93,33% terdapat serangan internal (noda pewarnaan bagian dalam) dan sebanyak 46,67% mendapat serangan internal yang hebat. Serangan jamur tersebut dapat menurunkan nilai jual bahan baku rotan.

Serangan jamur perusak rotan dan bambu di permukaan 11 jenis rotan berkisar antara 13,30–100% dan turunnya nilai jual berkisar antara 14,29-100%. Nilai jual turun 100% berarti rotan tersebut afkir dan tidak dapat digunakan lagi, yang ditemukan pada rotan irit dan sega dengan serangan permukaan 89,90% dan 87,60%, rotan mandola dengan serangan jamur 72,7% dan jumlah lubang akibat serangan bubuk 845 buah/m2. Khusus untuk rotan manau yang mendapat serangan jamur 100% termasuk kriteria afkir dan nilai jualnya turun 71,91%36.

Serangan jamur pelapuk dapat terjadi mulai rotan segar dan dapat mengakibatkan kekuatan rotan menurun. Munculnya tubuh buah jamur pelapuk telah terlihat pada umur 38 hari (S. commune), 52 hari (Coprinus sp.), lebih kurang 6 bulan (Polyporus sp.) dan lebih dari 12 bulan (D. spathularia) sejak rotan ditebang.

Pelapukan rotan yang ditandai oleh penurunan berat akibat serangan S. commune adalah 5,79%37. Penurunan berat tiga jenis rotan yang digoreng dan yang tidak digoreng lalu dicelup larutan kaporit 3% oleh Pycnoporus sanguineus, Dacryopinax spathularia dan S. Commune berkisar antara 10,43 – 32,87%38. Untuk menghindari serangan perlu dilakukan tindakan pencegahan antara lain jika memungkinkan penebangan rotan dilakukan pada musim kemarau, kemudian segera diangkut, diolah dan dikeringkan.

Hasil pengamatan di beberapa industri rotan, pengolahan rotan yang cepat dapat menekan serangan jamur perusak rotan dan bambu kurang dari 10% (pengeringan dengan sinar matahari dan tidak terkena hujan). Penggorengan rotan dan atau pengasapan rotan tidak mengurangi serangan jamur secara efektif. Penggorengan rotan dengan minyak tanah mampu menekan serangan jamur pewarna 13,13% selama 2 bulan pengeringan ditempat terbuka, namun masih ditemukan serangan jamur pelapuk. Baca juga artikel terkait: Penelitian Ahli: Keefektifan Bahan Pengawet Kayu Anti Jamur BioCide Pada Papan Kelapa Sawit dan Macam-macam Serangan Jamur Kayu Dan Cara Mengatasinya.

Pencegahan Jamur Yang Efektif Pada Rotan

Pengasapan terhadap rotan yang tidak digoreng maupun yang digoreng dapat mencegah serangan jamur biru, jika rotan tesebut dikeringkan dengan sinar matahari dan bila hujan atau malam disimpan di ruangan berventilasi baik. Pencegahan serangan jamur perusak rotan dan bambu dapat dilakukan dengan pengeringan memakai dehumidier pada suhu 40-45⁰C.

Selain itu, pencegahan serangan jamur dapat dilakukan dengan menggunakan Fungisida seperti BioCide Wood Fungicide. Batang rotan dipotong sesuai ukuran kemudian diawetkan dengan fungisida di lokasi penebangan, pemotongan, pengumpulan, dan pengolahan kemudian dikeringkan. Fungisida yang digunakan yaitu bahan kimia sama seperti yang digunakan pada kayu dan berfungsi mencegah serangan jamur dan bubuk. Pencelupan rotan segar dengan bahan kimia konsentrasi 0,5-2,5% dapat mencegah serangan jamur pewarna selama 2-4 minggu dalam proses pengeringan di tempat terbuka dan dengan kondisi setiap hari hujan.

Pencelupan tiga jenis rotan ke dalam larutan asam borat, boraks dan polibor 1–4%, kemudian dikeringkan di ruang beratap seng dan berventilasi baik selama 8 minggu dapat mencegah serangan jamur pewarna menjadi kurang dari 18% dan pewarnaan internal sekitar 1%42. Pencegahan serangan jamur perusak rotan dan bambu kering sebaiknya digunakan campuran fungisida dan insektisida (untuk mencegah serangan bubuk, bisa menggunakan produk BioCide Insecticide dan BioCide Fungicide).

Jamur Perusak Bambu

Bambu yang telah diserang jamur pewarna terlihat kotor namun kekuatannya tidak menurun. Sedangkan bambu yang diserang jamur pelapuk kekuatannya menurun. Jenis jamur pelapuk yang menyerang bambu antara lain Schizophyllum commune, Dacryopinax spathularia, Polyporus spp., Pycnoporus sp., Pleurotus sajor-caju, Pleurotus spp., dan Auricularia spp.

Upaya menghindari serangan jamur pada bambu, jika mungkin penebangan bambu dilakukan setelah masak tebang pada musim kemarau, kemudian segera dipotong, diangkut, diolah dan dikeringkan. Jika tidak mungkin, bambu setelah dipotong direndam dalam air mengalir.

Pencegahan serangan jamur pada bambu dapat dilakukan seperti terhadap rotan, dan harus dipilih bahan kimia yang aman terhadap manusia (seperti obat anti jamur BioCide). Karena umumnya bambu digunakan untuk bahan bangunan/rumah, perabotan dan kerajinan. Sedangkan pencegahan serangan jamur terhadap bambu kering dapat dilakukan dengan cara menyimpan atau memasangnya di tempat kering, terlindung dan tidak terkena atau berhubungan dengan air dan udara lembab. Baca juga: Cara Menghilangkan Jamur Pada Kayu Olympic.

Pencegahan Serangan Jamur Perusak Pada Bambu

Pencegahan serangan organisme pada bambu kering dapat digunakan campuran fungisida dan insektisida. Selain itu tindakan pencegahan serangan jamur pada bambu untuk bangunan dapat dilakukan menggunakan senyawa kimia yang aman dan ramah lingkungan.

Dalam rangka pemasyarakatan pencegahan serangan organisme pada rotan dan bambu telah dilakukan sosialisasi, pelatihan, sedangkan praktek dan evaluasi di salah satu industri rotan di Klaten. Pertemuan antara pengusaha dan peneliti litbang yang di koordinir oleh Asmindo (Asosiasi Mebel Indonesia) di Jawa Timur. Transfer teknologi dan iptek telah bekerjasama dengan Departemen Perindustrian dan indutri serta pengrajin.

Dukungan pemerintah diperlukan untuk mendorong pengusaha bahan pengawet meramu sendiri dengan bahan aktif yang tersedia. Pengusaha diharuskan mencegah serangan jamur sejak di penebangan, pengumpulan dan pengolahan agar kualitasnya prima.

Penggunaan pestisida bukan satu-satunya cara untuk mencegah serangan jamur perusak dan bukan suatu keharusan, karena pemakaian yang tidak hati-hati dapat menimbulkan pencemaran lingkungan serta berbahaya bagi manusia. Oleh karena itu, penggunaan pestisida hanya dilakukan apabila cara lain sudah tidak memungkinkan. Selain itu, pestisida yang dipakai harus dipilih yang aman terhadap lingkungan dan efektif terhadap organisme sasaran serta tidak mengubah warna. Sehingga jamur perusak rotan dan bambu bisa hilang.


Sumber: Penelitian Sihati Suprapti, Pengelolaan Jamur Perusak Kayu Untuk Mendukung Pelestarian Dan Pemanfaatan Sumber Daya Hutan, dalam Himpunan Bunga Rampai Orasi Ilmiah Ahli Peneliti Utama, Puslitbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan, 3 Desember 2012.