pemanfaatan bambu

Mengenal Jenis Bambu untuk Kerajinan yang Sering Digunakan

Di antara tanaman yang pertumbuhannya subur di Indonesia, jenis tanaman yang paling sering digunakan adalah bambu. Dan, dari ratusan spesies bambu yang tumbuh di seluruh dunia, tidak semuanya dapat digunakan sebagai bahan baku pembuat kerajinan.

Setiap jenis bambu yang tumbuh tentu memiliki karakteristik dan sifat khas tersendiri. Hal tersebut tentu yang menjadi pembeda sekaligus pemanfaatannya yang juga semakin beragam. Pengolahan bambu menjadi kerajinan hanya salah satu dari sekian banyak manfaat yang dapat diperoleh dari pemanfaatannya.

Jenis Bambu untuk Kerajinan

Bambu adalah tanaman yang termasuk dalam famili Gramineae yang tumbuh dan tersebar di wilayah tropis serta subtropis. Persebarannya di seluruh dunia (menurut data) kurang lebih ada 700 spesies.

kerajinan vas bunga dari bambu

Pertumbuhan bambu yang paling besar ada di wilayah India yang memiliki 9 juta ha, disusul oleh China dengan luas 3 juta ha lahan bambu dan juga Jepang dengan 120.000 ha kebun bambu. Di antara banyaknya jenis bambu yang ada, hanya beberapa di antaranya yang dapat diolah dan digunakan sebagai material kerajinan.

1.  Bambu Betung

bambu betung yang baru saja dipanen

Bambu betung (dendrocalamus asper schult. f. backer) memiliki banyak sebutan atau nama lain dalam berbagai bahasa daerah. Selain bambu betung, ada awi betung, jajang betung, pereng betung dan deling betung. Bambu ini memiliki masa pertumbuhan yang lambat dengan rumpun yang cukup rapat.

Bambu betung dapat tumbuh hingga 20 meter dengan diameter 20 cm. panjang ruasnya mampu mencapai 60 cm dengan ketebalan dinding buluhnya hingga 1,5 cm. Pertumbuhan bambu ini dapat optimal pada dataran rendah hingga daerah dengan ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.

Jenis bambu betung pada umumnya dimanfaatkan untuk material bangunan. Termasuk bahan baku untuk membuat dinding rumah dari anyaman atau dari bilah bambu. Pembuatan furniture serta berbagai produk kerajinan juga kerap menggunakan jenis ini.

Rebung dari bambu beutng juga dapat diolah menjadi sayur yang enak untuk dikonsumsi. Bahkan, dibandingkan rebung dari jenis bambu lainnya, rebung bambu betung rasanya yang paling enak saat diolah.

2.  Bambu Apus

proses panen dari bambu apus

Bambu apus terkenal dengan sebutan awi tali di bahasa sunda, merupakan jenis bambu untuk kerajinan yang paling sering digunakan. Bambu apus masuk dalam genus gigantochloa yang merupakan jenis bambu yang hidup dengan membentuk rumpun. Bambu ini mampu mencapai ketinggian hingga 20 meter dengan buluhnya yang berwarna hijau cerah ataupun kekuningan. Batang dari bambu ini tidak membentuk cabang pada bagian bawahnya.

Bambu apus memiliki garis tengah mulai dari 2,5 cm hingga 15 cm dengan ketebalan dinding 13 mm. Bambu apus juga memiliki panjang ruas maksimal 65 cm dengan panjang batangnya yang mampu mencapat 15 cm. batang dari bambu ini tumbuh dengan lurus dan kuat, bentuknya teratur dan berbuku-buku hingga terlihat cukup bengkak.

Pertumbuhan optimal bambu apus berada pada daerah dataran rendah hingga yang mencapai ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Persebaran pertumbuhan jenis bambu ini hanya ada di wilayah Jawa. Sebagai bahan baku kerajinan, bambu ini memang juaranya.

Bambu apus cukup terkenal untuk menjadi bahan baku pembuatan anyaman. Seratnya yang kentur, halus dan ukuran seratnya yang panjang menjadi alasan utamanya. Namun, untuk pembuatan alat musik bambu apus tidak sebaiknya digunakan, karena akan menyebabkan gaung atau suara music menjadi tidak teratur.

Pada kondisi basah, bambu apus akan berwarna hijau dan teksturnya tidak keras sehingga mudah putus. Sementara saat sudah dalam kondisi kering, warnanya akan cenderung putih kekuningan dan menjadi lebih kuat.

3.  Bambu Tutul

bambu tutul dengan motif yang unik

Yang ketiga, ada jenis bambu tutul yang juga memiliki berbagai sebutan unik di berbagai daerah, terutama dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Bambu ini dapat tumbuh dengan rumpun yang tidak terlalu rapat.

Tinggi tanaman ini bisa mencapai 20 meter dengan besar pangkal batangnya hingga 10 cm dan ketebalan dindingnya sampai 15 mm. Bambu tutul ini memiliki panjang ruas sekitar 20 cm hingga 45 cm. memiliki warna buluhnya hijau beraksen garis kuning yang dilengkapi dengan bercak cokelat.

Pertumbuhan bambu tutul termasuk cepat dan mudah untuk diperbanyak. Hal ini juga karena lahan keadaan lahan untuk penanaman bambu ini tidak terlalu sulit karakteristiknya. Bahkan jenis bambu ini mampu tumbuh pada lahan yang cukup kering.

4.  Bambu Gombong untuk Kerajinan

Bambu gombong dengan tampilannya yang eksotis

Selain ketiga jenis bambu yang sudah disebutkan di atas, ada pula ater atau bambu gombong yang kerap menjadi bahan untuk pembuatan kerajinan. Bambu gombong (gigantochloa verticillate Munro (G. atter Kurz)) adalah tanaman yang tumbuh dengan tipe merumpun.

Jenis bambu gombong ini memiliki tinggi buluh hingga mencapai 26 m dengan wilayah persebaran di daerah dataran rendah hingga yang mencapai ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini memiliki diameter pangkal batang hingga 13 cm dan ketebalan dindingnya mencapai 6 hingga 20 mm.

Warna dari buluh bambu gombong berwarna hijau yang dilengkapi dengan aksen kuning membujur berbentuk garis. Berdasarkan garis pada batangnya, di Jawa Barat bambu ini dikenal dengan sebutan andong. Sedangkan yang tidak bergaris disebut dengan ater.

Jenis bambu gombong kerap diolah dan dimanfaatkan untuk pembuatan produk kerajinan tangan yang menarik. Selain itu, sering pula digunakan sebagai bahan baku untuk kebutuhan bangunan dan juga untuk membuat chopstick.

Itulah beberapa jenis bambu untuk kerajinan yang sering digunakan di Indonesia. Dari berbagai jenis bambu tersebut, dihasilkan berbagai bentuk kerajinan yang menarik dan tetap fungsional.

Rekomendasi Untuk Anda

    Pilihan Menarik Lainnya

      Leave a Comment

      Your email address will not be published. Required fields are marked *