Ketahanan Kayu Sengon, Akasia, Karet Dan Tusam Terhadap Jamur

Hutan merupakan kekayaan alam Indonesia dengan berbagai keanekaragaman hayati. Salah satu bentuk keanekaragaman tersebut adalah jamur yang diketahui tumbuh secara liar di alam. Potensi jamur sebagai salah satu sumber hayati belum dimanfaatkan secara optimal.

Jamur Schizophyllum commune Fr. merupakan salah satu jenis jamur pelapuk kayu yang sangat potensial dan dapat tumbuh secara alami pada batang pohon maupun pada limbah kayu hasil hutan.

Jamur merupakan kelompok mikroorganisme yang paling umum menyebabkan kerusakan kayu disbandingkan dengan kelompok mikroorganisme yang lain seperti bakteri, virus, dan nematoda. Jamur S. commune merupakan jamur pelapuk kayu yang cukup ganas karena dalam beberapa kasus dapat menyebabkan penurunan berat sampai 70%. Pertumbuhannya pun relatif mudah dan cepat. Jamur pelapuk kayu merupakan golongan jamur yang dapat merombak selulosa dan lignin sehingga kayu menjadi lapuk, kekuatan serat elastisitasnya turun dengan cepat.

Beberapa kayu rakyat yang telah banyak dibutuhkan banyak mengalami serangan jamur kayu. Keberadaan kayu rakyat telah diketahui secara luas sangat potensial. Berdasarkan sifat ketahanannya sebagian besar kayu rakyat memiliki kelas awet yang rendah (kelas awet III, VI, dan V).

Suatu penelitian dari Jurnal Ilmu Kehutanan, meneliti beberapa kayu rakyat dan ketahanannya terhadap serangan jamur kayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan empat jenis kayu rakyat yaitu kayu Sengon (P. falcataria), kayu Karet (H. brasiliensis), kayu Tusam (P. merkusii), dan kayu Mangium (A. mangium) terhadap serangan jamur pelapuk S. Commune.

Ketahanan Kayu terhadap Jamur Pelapuk S. commune

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat ketahanan kayu dari serangan faktor perusak kayu yaitu faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar berkaitan dengan kondisi lingkungan dimana kayu tersebut digunakan, sedangkan faktor dalam adalah pengaruh komponen kimia dari kayu yang bersangkutan. Nilai rataan penurunan bobot pada kayu sengon nyata lebih tinggi dibanding ketiga jenis kayu rakyat lainnya (kayu karet, tusam, dan mangium). Hal ini diduga karena jumlah selulosa dan lignin yang terkandung pada kayu sengon lebih tinggi dibanding ketiga kayu lainnya.

Iklan Biothane utama

Dalam Atlas Kayu Jilid 2 disebutkan bahwa kadar selulosa kayu sengon tergolong tinggi (49,4%), sedangkan kandungan ligninnya termasuk sedang (26,8%). Hal ini berarti bahwa jenis kayu ini mudah dirombak oleh jamur.

Jamur pelapuk kayu mampu merusak selulosa dan lignin penyusun kayu dengan cara menguraikan kayu melalui proses enzimatik dari bentuk yang kompleks menjadi lebih sederhana. Hal ini menyebabkan bobot kayu menurun dari bobot awalnya. Besarnya nilai penurunan bobot akibat serangan jamur dalam waktu tertentu menunjukkan tingkat penyerangan jamur terhadap kayu tersebut.

Serangan jamur perusak kayu (wood destroying fungi) bersifat menghancurkan dan membusukkan bahan organik kayu karena sebagian dari masa kayu dirombak secara biokimia. Kerusakan kayu akibat serangan jamur dapat dilihat dengan adanya perubahan sifat fisik dan sifat kimia dari kayu. Pada prinsipnya semua jenis kayu dengan berbagai bentuk dan ukuran dapat diserang oleh jamur. Akan tetapi ada juga beberapa kayu yang tahan terhadap serangan jamur. Hal ini disebabkan adanya zat ekstraktif di dalam kayu yang bersifat sebagai anti jamur alami.

Jika dilihat dari jenisnya, kayu sengon, karet, dan mangium tergolong ke dalam kayu daun lebar (Harwood), sedangkan di kelompokkan ke dalam kayu pinus/tusam tergolong ke dalam kayu daun jarum (Softwood). Kandungan selulosa dan lignin pada kayu daun lebar (Hardwood) lebih tinggi dibandingkan dengan kayu daun jarum (Softwood).

Sementara kandungan zat ekstraktif pada kayu daun lebar (Hardwood) lebih rendah dibandingkan kayu daun jarum (Sofwood). Karena zat ekstraktif berperan dalam melawan serangan jamur pelapuk. Jadi semakin tinggi kandungan ekstraktif yang terdapat dalam kayu maka nilai penurunan bobot kayu tersebut akan semakin rendah.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa kayu sengon termasuk ke dalam kelas awet IV-V (tidak tahan sampai sangat tidak tahan terhadap serangan jamur) dengan nilai penurunan bobot sebesar 32,18% (arah serat longitudinal) dan 15,47% (arah serat cross section). Dengan demikian, kayu sengon dianjurkan untuk menjadi kayu yang harus diberi treatment pengawetan agar awet karena menunjukkan nilai penurunan bobot (Weight loss) tertinggi.

Iklan Biothane utama alterntif text
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn