resort pinggir pantai

Bisnis Homestay, Peluang Besar untuk Warga Lokal

Bisnis homestay sangat menjanjikan di tengah trend orang-orang melakukan traveling. Kita mulai bisa memulai hitungan kasar modal dan potensi keuntungannya.

Coba buka aplikasi youtube Anda. Setelah itu, ketik tulisan “travel vlogger” di bagian pencarian. Seketika itu juga, Anda akan mendapati sangat banyak hasil dengan tema besar serupa: liburan.

Nathab.com mengonfirmasi fenomena ini. Menurut mereka, ada kecenderungan kuat di mana anak muda zaman now memang sangat suka jalan-jalan dan mendokumentasikan pengalaman mereka. Padahal, dibandingkan generasi sebelumnya, generasi muda mendapatkan pemasukan yang lebih sedikit.

Bahkan sebagaimana dilansir CNBC tak sedikit anak muda yang tak khawatir traveling walau masih memiliki hutang. Toh, bagi mereka, dana untuk traveling lebih terjangkau dibandingkan dana untuk membeli properti yang harganya naik gila-gilaan. Apalagi sembari traveling, mereka juga bisa menggeluti pekerjaan kreator konten (youtuber misalnya).

Kabar Baik untuk Industri Pariwisata Indonesia

daerah pantai dengan potensi wisata dan homestay yang cukup besar

Perubahan gaya hidup ini sedikit banyak menguntungkan sektor wisata negara berkembang. Sebab perubahan trend tersebut lebih banyak ditemukan di negara maju dibanding negara seperti Indonesia.

Oleh karena budget mereka tak besar, para turis dari Eropa dan Amerika seringkali mencari destinasi yang tak membutuhkan budget banyak. Asia Tenggara pun menjadi salah satu spot favorit mereka.

Populernya Vietnam beberapa waktu terakhir dipercaya karena munculnya trend para traveler muda tersebut. Vietnam memberikan alternatif wisata yang jauh lebih murah dan masih sangat eksotik karena belum diekspos besar-besaran seperti Thailand.

Bagaimana dengan Indonesia? Selain Bali, hampir semua daerah di Indonesia masih “underrated” karena kurangnya promosi. Pemerintah memang sempat berupaya dengan program 1000 Bali-nya. Sayang, rencana tersebut terkendala oleh pandemi covid 19.

Meski demikian, dengan trend ini, potensi keuntungan tetap didapatkan sektor wisata. Mereka yang bekerja di bidang perhotelan hingga restaurant dapat mengumpulkan pundi keuntungan yang tak sedikit apabila bisa memaksimalkan peluang yang ada. Pun begitu dengan mereka yang bergerak di industri penginapan.

Bisnis Homestay yang Jadi Idaman

Saat traveler melakukan perjalanan di dalam negaranya, mereka mungkin tak memerlukan penginapan. Bahkan di Amerika dan Eropa, banyak wisatawan yang bepergian dengan mobil saja.

Namun, hal itu tidak akan bisa mereka lakukan ketika berwisata di Asia. Mau tak mau, mereka harus mencari tempat menginap.

Rate harga hotel di Asia secara umum sudah murah bagi mereka. Namun karena tak sedikit turis yang ingin berwisata dalam waktu lama, mereka akan dengan senang hati menerima tawaran penginapan yang lebih murah.

Misalnya, dengan menginap di homestay. Homestay merupakan rumah biasa yang disewakan warga kepada wisatawan. Konsep homestay semakin marak belakangan ini karena menawarkan fee lebih terjangkau.

Dan bagi kita yang tinggal di Indonesia, demand akan homestay juga bisa kita jadikan sebagai peluang usaha lho. Ingat, dunia sudah semakin terkoneksi. Dengan mudahnya, Anda bisa mempromosikan usaha tersebut di berbagai forum dan komunitas dunia maya.

Potensi Keuntungan yang Besar

Di spot-spot wisata, untung bersih yang diperoleh para pemilik bisnis homestay bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah. Di waktu-waktu puncak liburan, jangan heran bila Anda mendapatkan pemasukan yang tak disangka-sangka mencapai ratusan juta.

Keuntungan menggiurkan ini menarik warga negara asing. Di Bali, misalnya, tak sedikit turis yang secara diam-diam membuka usaha serupa. Biasanya, mereka menyewa rumah dari warga lokal. Setelah itu, mereka kembali menyewakan rumah tersebut kepada turis dari negaranya dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Kemampuan Bahasa Inggris dan koneksi mereka dengan dunia barat membuat mereka diuntungkan. Aktivitas ini sebenarnya tergolong illegal. Namun dari sini, kita jadi tahu bahwa kesadaran mayarakat lokal untuk memaksimalkan bisnisnya belum begitu mumpuni.

bisnis homestay

Peluang untuk untuk Milenial Indonesia di Daerah Non-industri

Siapapun sebenarnya bisa memulai usaha homestay sekiranya memiliki modal yang cukup. Anda akan lebih diuntungkan ketika memiliki rumah atau property sendiri di daerah wisata.

Coba bayangkan bila Anda adalah seorang pemuda yang tinggal di salah satu pulau cantik di NTT. Selama ini, Anda melihat bahwa jumlah turis yang mengunjungi NTT semakin banyak sebelum covid-19 melanda.

Anda juga mendapati orang-orang dari Jakarta mulai membangun bisnis hotel mereka. Hotel-hotel itu memang megah. Namun harganya tergolong sangat mahal.

Pada situasi seperti ini, sebenarnya Anda punya peluang lho menawarkan penginapan yang lebih murah kepada para turis. Ya, bagi warga di daerah non-industri, pariwisata bisa menjadi jalan untuk kehidupan yang lebih sejahtera.

Sedikit banyak, Maldives, Makau, hingga Thailand telah membuktikan itu. Kita di Indonesia pun memiliki banyak sekali pulau cantik yang memang tidak cocok untuk industry besar (masalah logistik hingga kurangnya SDM). Jadi, kenapa tidak coba-coba dengan usaha ini?

bisnis homestay untuk daerah dengan peluang wisata yang tinggi seperti Nusa Tenggara

Bagaimana dengan Modal Bisnis Homestay?

Katakanlah Anda sudah punya rumah di salah satu pulau cantik di NTT, NTB, dan daerah indah lainnya. Anda tinggal mendekorasi rumah dengan gaya khas daerah dan menyediakan beberapa kamar sekaligus (2 hingga 5 kamar untuk homestay kecil). Biayanya:

  1. Desain ulang rumah: Rp10.000.000 hingga Rp50.000.000 sesuai dengan tingkat renovasi
  2. Pembelian perabot: Rp10.000.000 hingga Rp30.000.000 sesuai kebutuhan
  3. Elektronik (termasuk wifi) dan lainnya: Rp1.000.000 hingga Rp5.000.000

Totalnya mulai dari Rp11.000.000 hingga Rp85.000.000 sesuai kondisi. Anda juga bisa kok memangkas biaya tersebut lagi atau patungan bersama teman yang lain.

Yang jelas, selama Anda sudah punya rumah dan tanah, Anda seharusnya bisa mereka-reka untuk menyediakan bangunan yang pantas bagi para turis. Bilapun hasilnya masih kurang bagus, pangkas fee yang Anda wajibkan untuk mereka.

Adapun untuk biaya operasionalnya, usaha homestay biasanya membutuhkan:

  1. Peralatan dan amenities kamar: Rp400.000
  2. Kebersihan: hingga Rp250.000
  3. Konsumsi: hingga hingga Rp3.000.000
  4. Gaji pegawai: opsional
  5. Listrik dan air: Rp1.000.000

Seiring berjalannya waktu, Anda juga bisa mengumpulkan modal yang semakin besar. Sehingga nantinya, bisnis homestay Anda semakin berkualitas.

Rekomendasi Untuk Anda

    Pilihan Menarik Lainnya